Seekor keledai mengantar barang-barang tuannya dari Baghdad ke kota Hijaz. Dalam perjalanan itu ia melewati jalan tersingkat, menapaki jalan setapak yang membelah savana dan gurun. Tak ada jalur lain paling singkat selain jalan ini. Karena barang harus cepat sampai, ia berjalan cepat setengah berlari. Tiba-tiba sebuah lubang tak sempat terantisipasi, iapun jatuh ke dalamnya. Untung ia berhasil bangkit dan melanjutkan perjalanan sampai ke kota Hijaz.
Dengan kecelakaan ini, keledai itu telah melalui proses pembelajaran;
Pertama, mengetahui (knowing). Ia tahu bahwa di kilometer sekian jalur itu terdapat lubang yang membahayakan. Kita pasti setuju bahwa ”mengetahui” selalu lebih baik daripada ”tidak mengetahui”, sekecil apapun berita dan peristiwanya. Tahap knowing ini didapat keledai begitu peristiwa terjadi. Begitu berhasil bangkit Ia mengingatnya terus sampai di tempat tujuan.
Kedua, belajar (learning). Keledai itu tentu paham tak selamanya berada di Hijaz, tetapi harus segera pulang ke Baghdad menemui tuannya untuk mendapat hadiah sekarung rumput. Karena ’mengetahui’ bahwa di kilometer sekian jalur itu terdapat lubang sedangkan ia belum tahu jalur lainnya, maka ia putuskan untuk tetap melewatinya untuk sekali ini saja. Tepat di kilometer sekian tempat lubang berada, keledai itu berjalan pelan, turun dengan hati-hati. Ia berhasil melewatinya dan sampai ke kota Baghdad dengan selamat. Sekembalinya di Baghdad ia telah berhasil ”mempelajari” bagaimana melewati jalan berlubang.
Ketiga, berpikir (thinking). Keledai itu yakin bahwa kelak ia akan disuruh lagi oleh majikan ke Hijaz, dengan tugas yang sama. Bagaimana dengan jalan yang berlubang? Ia ”berpikir” bahwa kanan kiri jalan bukanlah tebing curam. Maka mengapakah ia tidak membuat track baru, merintis jalur pribadi dengan tapak-tapak kakinya? Ini tentu lebih bermanfaat. Jalur pribadi ini nananti akan digunakan pula oleh keledai lain dan siapa tahu ada manusia yang memperbaikinya menjadi jalan beneran yang permanen.
Keempat, menciptakan (creating). Sepekan kemudian keledai itu benar-benar kembali disuruh tuannya ke Hijaz dengan misi yang sama. Dan ia benar-benar merealisasikan apa yang dipikirnya, yaitu ”menciptakan” jalan baru dengan mengandalkan tapak kakinya. Tentu, ia sampai ke Hijaz lebih cepat. Di sana, ia mendengar manusia bercakap, ”sekarang ada jalur baru menuju Hijaz yang lebih cepat dan tidak ada lubangnya”. Keledai itu bangga hasil rintisannya bermanfaat.
Manusia (seharusnya) adalah pembelajar sejati. Tetapi tak semuanya sadar.
Seorang teman pernah mengeluh kepada saya tentang usaha dakwahnya yang buntu. Ia menceritakan upayanya mendirikan Taman AL-Qur’an di sebuah masjid yang ditolak oleh ketua DKM. Persoalannya, DKM tahu bahwa teman tersebut orang partai, dan ketakutan kalau taman Al-Qur’an yang berdiri nanti akan bernuansa partai.
Di lain waktu, ia mengeluh lagi tentang ketua RW yang menolak rencananya mengadakan pelayanan kesehatan. Alasan Pak RW, kegiatan tersebut dikhawatirkan akan bernuansa partai.
Tak terlalu lama, teman tersebut merekrut halaqah dan halaqahnya bubar karena alasan yang sama; anak-anak takut kalau halaqah akan berubah menjadi kader partai.
Selang beberapa waktu, ia datang lagi dan mengeluh : ia mengajak pengajian ibu-ibu tetapi ditolak karena ibu-ibu khawatir pengajian akan bernuansa partai.
Kasus tersebut sebenarnya sederhana dan dengan cepat dapat disimpulkan, bahwa masyarakat belum menerima partai. Hanya ini persoalannya.
Sekarang mari kita berpikir sederhana; Bila seorang pasien tidak suka telur tetapi harus tetap mendapat asupan protein, bagaimana caranya?
Mudah saja. Pertama, buatlah menu telur olahan dalam bentuk kue atau lainnya yang membuat nuansa telur tidak nampak. Dan jangan katakan bahwa bahan itu mengandung telur, sampai benar-benar yakin bahwa pasien itu tak takut lagi dengan telur. Pasien pasti mau asal masakannya nikmat.
Cara kedua, bukankah sumber protein itu banyak, tidak hanya dari telur? Ganti saja bahan dari daging, ikan, kacang-kacangan, susu, atau yang lain masih banyak lagi. Yang penting adalah asupan protein mencukupi kebutuhan pasien.
Saya mengatakan kepada teman tersebut secara tersirat agar ia proporsional membawa atribut, atau sikap apapun yang sementara ini masyarakat masih takut. Sampaikan substansinya dulu, bukan kulitnya.
Tetapi jawabannya mengejutkan saya : ”Partai dakwah ini kan kebenaran, kenapa harus disembunyikan? .. biarlah kita ditolak, ini adalah bagian dari rintangan dakwah”, katanya.
Kalau begitu ya sudah. Selamat menikmati.
Tetapi beberapa bulan setelah menyampaikan keluhan itu, ia datang lagi dengan keluhan yang sama. Wajihah yang dibentuknya dicurigai sebagai wadah kaderisasi partai. Maka halangan demi halanganpun menerpanya.
Saya menghela nafas. Bukankah ini adalah ’lobang’ yang sama seperti kemarin-kemarin? Mengapakah kita seolah begitu kesulitan mengatasinya?
Kita menyampaikan esensi tarbiyah, pembinaan akhlaq, dan pendidikan politik. Setelah itu baru membicarakan pemilu, stiker dan bendera. Seharusnya kita timing dengan sistematis, kemudian menikmati perjalanan waktu dengan kesabaran yang kreatif. Selama me-maintain masyarakat, kita tidak berhenti. Tetapi terus melakukan kebiasaan produktif, yang bermanfaat bagi mereka. Hilangkan kebiasaan tergesa-gesa dan penuh nafsu, (biasanya atas nama ’percepatan dakwah’). Beri target sekian waktu untuk menyusupkan substansi ini, hingga tiba saatnya hidayah itu tiba.
Dalam hati terpikirkan oleh saya, bagaimana seandainya saya datangkan saja keledai dari Baghdad. Agar kita nikmati empat tahapan yang sederhana itu.
n Anak Kecil dan Lokomotif.
Alkisah, seorang anak bersama ibunya ingin bepergian ke luar kota. Mereka hendak naik kereta, lalu berangkat menuju stasiun. Sesampai di stasiun dan melihat rel yang sepi, tiba-tiba mendengar bunyi klakson yang keras. Anak itu kaget dan menjerit begitu dilihat tak jauh dari tempatnya berdiri, sebuah lokomotif muncul. Dalam pandangan sekejap, yang tampak olehnya adalah kepala kereta, lokomotif yang menyeramkan. Cepat-cepat ia memalingkan muka karena ketakutan. Ia tak tahu apa deretan berikutnya di belakang lokjomotif itu. Sejak saat itu ia trauma dan selalu menjerit ketika melihat lokomotif. Hanya lokomotifnya saja. Perjalanan naik kereta dibatalkan.
Ketika pulang dari bepergian, sang ibu harus membuat strategi. Agar pulang lebih cepat, ia tetap harus naik kereta meskipun anaknya trauma dengan lokomotif.
Yang ia lakukan adalah; ia mengupayakan sebisa mungkin anaknya tertidur. Karena tidak bisa tidur secepat itu, ia mengajak anaknya bermain pejam mata. Ketika si anak memejam, si Ibu cepat-cepat masuk gerbong dan mengambil tempat duduk sesuai nomor tiketnya. Di di dalam gerbong si anak heran, tiba-tiba berada dalam ruangan ber-AC, kursi bagus, jendela dengan tirai, dan lalu lalang pramukereta yang berpakaian rapi dan ramah sambil menawarkan aneka minuman dan makanan.
Anak itu tak habis pikir rumah siapa yang nyaman ini. Ketika kereta berjalan, ia menikmati pemandangan sekitar rel: ada gunung, sungai, sawah, burung di pohon, dan kerbau di rawa-rawa. Pemandangan yang menyenangkan. Terjadilah dialog antara keduanya:
Anak bertannya, ”Bu, kita ini naik apa sih ?”
”Kita naik Kereta, sayang. Ini dalam gerbong kereta”
”Kok nggak ada sopirnya, nanti kalau nabrak gimana?”
”Sopirnya di bagian paling depan, namanya lokomotif. Lokomotif itu kepala kereta, yang menarik semua gerbong dan mengendalikan laju kereta”
Sesampai di tempat tujuan, begitu turun, anak itu mengamati kereta yang baru saja ditumpanginya. Ya, ini benar-benar rangkaian gerbong yang ditarik oleh lokomotif.
Akhirnya anak itu paham dan berkomentar.
”Lokomotif itu baik ya Bu. Juga hebat, bisa menarik banyak gerbong. Banyak orang ramah dan membawa kue”
Dan saat itulah ia tak alergi lagi terhadap lokomotif karena manfaat yang didapat darinya lebih besar dari prasangka buruk yang ia takutkan.
Sesampainya di rumah, seperti biasa dilakukannya tiap pagi, anak itu ke Play Group. Dengan bangga ia menceritakan kepada teman-temannya tentang lokomotif yang hebat dan baik. Bahkan mempromosikan kepada teman-temannya untuk naik kereta ketika liburan nanti.
Nah, kalau sebagian masyakat alergi, takut dengan atribut atribut syariat islam, jilbab lebar, jenggot, dan sebagainya, maka tidak lain disebabkan mereka melihatnya seperti anak kecil di stasiun tadi. Masyarakat shock dengan kultur itu, lalu memalingkan muka. Orang ketakutan duluan dan menaruh antipati bila kadar manfaat yang kita berikan padanya lebih kecil dibanding kadar ketakutan mereka terhadap atribut itu. Maka kitapun kalah.
Sebuah polling sederhana menemukan tiga alasan mengapa orang enggan diajak mengaji:
Pertama, takut diarahkan berpolitik
Kedua, takut terperangkap aliran sesat
Ketiga, takut pekerjaan dan studinya terganggu.
Begitulah. Makanya ajaklah masyarakat main ’pejam mata’ sementara kita hujani mereka dengan aneka pelayanan dan kebaikan. Kelak ia akan menyimpulkan bahwa akhwat jilbaber dan ikhwan jenggotan itu luar biasa baiknya. Sampai mereka penasaran ingin tahu dari mana pelajaran kebaikan itu didapat.
Tunjukkan jalannya bila ia ingin tahu bagaimana caranya agar menjadi seperti kita.